Copy the BEST Traders and Make Money (One Click) : http://ow.ly/KNICZ Copy the BEST Traders and Make Money (One Click) : http://ow.ly/KNICZ

Senin, 12 Oktober 2015

Kabupaten Ponorogo



    
  Kabupaten Ponorogo (Hanacarakaꦦꦤꦫꦒ) adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa TimurIndonesia. Kabupaten ini terletak di koordinat 111° 17’ - 111° 52’ BT dan 7° 49’ - 8° 20’ LS dengan ketinggian antara 92 sampai dengan 2.563 meter di atas permukaan laut dan memiliki luas wilayah 1.371,78 km²[3]. Kabupaten ini terletak di sebelah barat dari provinsi Jawa Timur dan berbatasan langsung dengan provinsi Jawa Tengah atau lebih tepatnya 200 km arah barat daya dari ibu kota provinsi Jawa Timur, Surabaya. Pada tahun 2010 berdasarkan hasil Sensus Penduduk, jumlah penduduk Kabupaten Ponorogo adalah 855.281 jiwa.[1] 
    Hari jadi Kabupaten Ponorogo diperingati setiap tanggal 11 Agustus, karena pada tanggal 11 Agustus 1496, Bathara Katong diwisuda/dinobatkan sebagai adipati pertama Kadipaten Ponorogo. Pada tahun 1837, Kadipaten Ponorogo pindah dari Kota Lama ke Kota Tengah menjadi Kabupaten Ponorogo. Semenjak tahun 1944 hingga sekarang Kabupaten Ponorogo sudah berganti kepemimpinan sebanyak 16 kali.
    Kabupaten Ponorogo dikenal dengan julukan Kota Reog atau Bumi Reog karena daerah ini merupakan daerah asal dari kesenian Reog. Ponorogo juga dikenal sebagai Kota Santri karena memiliki banyak pondok pesantren, salah satu yang terkenal adalah Pondok Modern Darussalam Gontor yang terletak di desa Gontor, kecamatan Mlarak.
Setiap tahun pada bulan Suro (Muharram), Kabupaten Ponorogo mengadakan suatu rangkaian acara berupa pesta rakyat yaitu Grebeg Suro. Pada pesta rakyat ini ditampilkan berbagai macam seni dan tradisi, di antaranya Festival Reog Nasional, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, dan Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel


Etimologi


      Ponorogo berasal dari dua kata yaitu pramana dan raga. Pramana berarti kekuatan,rahasia hidup, sedangkan raga berarti badan,jasmani. Kedua kata tersebut dapat ditafsirkan bahwa dibalik badan manusia tersimpan suatu rahasia hidup (wadi) berdasarkan batin yang mantap dan mapan berkaitan dengan pengendalian sifat-sifat amarah,aluwamah/lawamah,shufiah dan muthamainah. Manusia yang memiliki kemampuan oleh batin yang mantap dan mapan akan menempatkan diri dimanapun dan kapanpun berada. Namun ada pula yang menyebutkan bahwa pono berarti melihat dan rogo berarti badan, raga, atau diri. Sehingga arti Ponorogo adalah "melihat diri sendiri" atau dalam kata "mawas diri".
     Asal-usul nama Ponorogo bermula dari kesepakatan dalam musyawarah bersama Raden Bathoro Katong, Kyai Mirah,Selo Aji dan Joyodipo pada hari Jum'at bulan purnama, bertempat di lapang dekat sebuah gumuk (wilayah katongan sekarang). Dalam musyawarah tersebut disepakati bahwa kota yang akan didirikan dinamakan Pramana Raga yang akhirnya berubah menjadi Ponorogo.

Sabtu, 10 Oktober 2015

Asal Mula Kabupaten Ponorogo

     


     Menurut Babad Ponorogo, berdirinya Kabupaten Ponorogo dimulai setelah Raden Katong sampai di wilayah Wengker. Pada saat itu Wengker dipimpin oleh Suryo Ngalam yang dikenal sebagai Ki Ageng Kutu. Raden Katong lalu memilih tempat yang memenuhi syarat untuk pemukiman (yaitu di dusun Plampitan Kelurahan Setono Kecamatan Jenangan sekarang). Melalui situasi dan kondisi yang penuh dengan hambatan, tantangan, yang datang silih berganti, Raden Katong, Selo Aji, dan Ki Ageng Mirah beserta pengikutnya terus berupaya mendirikan pemukiman.
Tahun 1482 – 1486 M, untuk mencapai tujuan menegakkan perjuangan dengan menyusun kekuatan, sedikit demi sedikit kesulitan tersebut dapat teratasi, pendekatan kekeluargaan dengan Ki Ageng Kutu dan seluruh pendukungnya ketika itu mulai membuahkan hasil.
    Dengan persiapan dalam rangka merintis kadipaten didukung semua pihak, Bathoro Katong (Raden Katong) dapat mendirikan Kadipaten Ponorogo pada akhir abad XV, dan ia menjadi adipati yang pertama.
Kadipaten Ponorogo berdiri pada tanggal 11 Agustus 1496tanggal inilah yang kemudian di tetapkan sebagai hari jadi kota Ponorogo. Penetapan tanggal ini merupakan kajian mendalam atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala berupa sepasang batu gilang yang terdapat di depan gapura kelima di kompleks makam Batara Katong dan juga mengacu pada buku Hand book of Oriental History. Pada batu gilang tersebut tertulis candrasengkala memet berupa gambar manusia yang bersemedi, pohon, burung garuda dan gajah. Candrasengkala memet ini menunjukkan angka tahun 1418 Saka atau tahun 1496 M. Sehingga dapat ditemukan hari wisuda Bathoro Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo yaitu hari Minggu Pon, tanggal 1 Besar 1418 Saka bertepatan tanggal 11 Agustus 1496 M atau 1 Dzulhijjah 901 H. Selanjutnya melalui seminar Hari Jadi Kabupaten Ponorogo yang diselenggarakan pada tanggal 30 April 1996 maka penetapan tanggal 11 Agustus sebagai Hari Jadi Kabupaten Ponorogo telah mendapat persetujuan DPRD Kabupaten Ponorogo.
    Sejak berdirinya Kadipaten Ponorogo dibawah pimpinan Raden Katong , tata pemerintahan menjadi stabil dan pada tahun 1837 Kadipaten Ponorogo pindah dari Kota Lama ke Kota Tengah menjadi Kabupaten Ponorogo hingga sekarang.

Reog Ponorogo


    Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tarijaran kepang atau jathilan, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping.
   Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu yang disebut Bujang Ganong atau Ganongan.
   Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar,
   Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.
   Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

Jumat, 09 Oktober 2015

Gajah-gajahan Ponorogo


      Gajah-gajahan adalah salah satu bentuk pertunjukan rakyat Ponorogo selain Reyog. Jenis kesenian ini mirip dengan hadroh atau samproh klasik, terutama alat-alat musiknya. Perbedaannya adalah bahwa kesenian ini tidak memiliki pakem yang tetap mulai alat-alat musik, gerak tari, lagu, dan bentuk musiknya berubah seiring perkembangan zaman. Perbedaan paling utama adalah hadirnya patung gajah yang terbuat dari kertas karton yang dilekatkan pada kerangka bambu. Dari segi simbol binatang yaitu gajah yang dijadikan salah satu alatnya, menunjukkan bahwa gajah adalah binatang yang mudah ditundukkan, santun serta banyak membantu pekerjaan manusia.Pada saat pertunjukan dimulai, patung gajah diangkat oleh dua orang yang masuk ke dalamnya dan dinaiki oleh seorang bocah kecil, yang umumnya perempuan atau laki laki yang didandani seperti perempuan, sambil diiringi oleh pemusik dibelakangnya. Pemusik membawa alat-alat musik berupaJedor, gendang, kentongan, atau alat-alat musik lainnya.
   Gajah-gajahan bukan sekedar kesenian panggung, tetapi juga sebagai sarana sosialisasi suatu kabar tertentu (misal; pengajian) dari si penghajat kepada masyarakat luas. Saat memerankan fungsi sosialisasi ini, gajah-gajahan diarak keliling desa atau beberapa desa di sekitarnya. Cara mengarak gajah gajahan dengan berkeliling desa itu, diharapkan akan mengundang perhatian warga untuk mendengarkan pesan pesan yang akan disampaikannya. Pada hajatan khitanan misalnya yang naik gajah-gajahan adalah anak kecil yang dikhitan. Kini seiring perkembangan zaman fungsi ini di geser seperti fungsi jathil pada kesenian Reyog (yang pada mulanya laki-laki berubah menjadi perempuan), yang mungkin agar memiliki unsur artistik.

Grebeg Suro


      Sejarah diadakannya Grebeg Suro di Kabupaten Ponorogo adalah adanya kebiasaan masyarakat pada malam 1 Suro yang mengadakan tirakatan semalam suntuk dengan mengelilingi kota dan alun-alun Ponorogo. Dan sehari sebelum tanggal 1 Muharram, diadakan Kirab Pusaka yang diarak dari Makam Batoro Katong (pendiri Ponorogo sampai ke Pendopo Kabupaten. Berikutnya akan ada Festival Reog Nasional dialun-alun kota.
    Rangkaian Grebeg Suro diantaranya, prosesi penyerahan pusaka ke makam bupati pertama Ponorogo. Kemudian disusul pawai ratusan orang menuju pusat kota dengan menunggang bendi dan kuda yang dihiasi.

Larung Sesaji di Telaga Ngebel


      Setelah sejumlah rangkaian acara Grebeg Suro terlaksana, puncak acara perayaaan 1 Suro atau 1 Muharram itu ditutup dengan ritual Larung Sesaji di Telaga Ngebel, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Acara yang kini disebut Larung Risalah Doa itu merupakan bentuk rasa syukur masyarakat Ponorogo, khususnya warga Ngebel yang diberikan keselamatan selama setahun. '
    Ucapan syukur itu dilaksanakan dengan menghayutkan tumpeng raksasa dan hasil bumi sebagai bentuk dileburnya balak sengkala dari Ponorogo. Acara sakral ini tetap menjadi acara menarik yang menarik wisatan mengunjung Ponorogo mulai wisatawan lokal Ponorogo sampai sejumlah wilayah Kabupaten lain di wilayah barat Jawa Timur.
     Acara ini dilengkapi dua tumpeng raksasa. Satu terbuat dari sayuran (hasil bumi) dan yang satu tumpeng beras merah.Tumpeng beras merah dilarung di tengah telaga dan tumpeng hasil bumi menjadi tumpeng porak yang dijadikan rebutan pengunjung karena diyakini untuk mendapatkan berkah.

Kamis, 08 Oktober 2015

Wisata Alami Ponorogo

1. Telaga Ngebel



     Telaga Ngebel berada di lereng Gunung Wilis pada ketinggian sekitar 734 meter dpl. Obyek wisata ini di Ponorogo ini berjarak kurang lebih 25 km dari pusat kota,tepatnya di Kecamatan Ngebel.
    Selama berada di tepi telaga wisatawan akan merasa tenang dan damai. Panorama alamnya hijau menyegarkan,air telaga tampak tenang dan berwarna biru.
Selain itu, terdapat juga beberapa fasilitas untuk berwisata seperti sepeda air, speed boat dan bus air. Wisatawan dapat mengelilingi telaga dengan menggunakan sarana tersebut. 


2. Air Terjun Pletuk



      Obyek wisata di Ponorogo ini berada di Dusun Kranggan, Ds. Jurug, Kec. Sooko. Air Terjun Pletuk berada pada ketinggian sekitar 450 meter dpl, dan dikelilingi dengan panorama alam perbukitan hijau yang sejuk di mata.
     Apabila wisatawan berangkat dari Kota Ponorogo, akan menempuh jarak kurang lebih 30 meter. Harga tiket masuknya adalah sebesar Rp 1500/orang.
Beberapa fasilitas yang telah disediakan oleh pihak pengelola antara lain areal parkir kenfaraan, warung makan,mushola,dan kamar mandi. Selain itu, di kawasan ini juga terdapat fasilitas panjat tebing.


3. Goa Lowo


   Obyek wisata di Ponorogo ini diberi nama Goa Lowo karena di dalam goa terdapat ribuan kelelawar. 
   Goa Lowo berada di Ds. Boworejo, Kec. Sampung, yaitu kurang lebih 20 km dari Kota Ponorogo. 
   Bagi wisatawan yang menyukai wisata alam, selagi berada di Kab.Ponorogo sempatkanlah untuk berlibur ke Gua Lowo. Sebuah obyek wisata goa yang nyaman dan alami dan pernah dijadikan tempat tinggal oleh manusia purba pada zaman mesolithikum. Selain itu, Anda juga akan berjukpa dengan bekas galian arkeologi.

4. Puncak Pringgitan 



   Sebuah puncak yang terdapat di Ponorogo yang dikenal dengan nama Puncak Pringgitan. Puncak Pringgitan ini terletak di beberapa tetorial karena berada di tiga kawasan yaitu Broto,Kambeng,dan Caluk namun lebih mengarah didaerah Caluknya. Disinilah kita dapat mengurangi kepenatan dengan wisata alam yang meneduhkan dan menenangkan batin.
   Bagi anda yang ingin melepas semua beban didada dan ingin berteriak, anda juga dapat menikmati pesona sunset dan juga sunrise yang menawan.

Wisata Alam Buatan Ponorogo

1. Taman Wisata Ngembak



    Taman Wisata Ngembag adalah taman wisata yang terletak di Kelurahan Ronowijayan Kecamatan Siman sekitar 3 km di sebelah timur dari pusat kota Ponorogo. Taman ini terdiri dari sumber air yang dilengkapi dengan taman bermain dan kolam renang anak. Sebelumnya Ngembag dikenal sebagai mata air yang tak terawat. Kemudian oleh Pemkab Ponorogo diubah sebagai taman kota yang dilengkapi dengan kolam renang anak dan juga beberapa permainan anak-anak.

2. Kintamani WaterPark



  Salah satu wahana yang paling sering dikunjungi wisatawan. Lokasi wahana dengan luas sekitar 1,8 hektar ini, berada di Jln. Ki Ageng Kutu, No.9, Siman, Ponorogo. Kintamani Waterpark memiliki 2 kolam renang anak dan dewasa,sarana outbound dan flying fox. 
Selain Waterpark,obyek wisata diPonorogo ini juga didukung oleh sebuah restoran bernuansa alam pedesaan dan terletak diatas danau buatan.

3. Gita WaterPark




Gita Waterpark berlokasi di Dusun Krajan, Ds. Pulung, Kab. Ponorogo, berjarak kurang lebih 18 km dari pusat kota. Obyek wisatas ini menggunakan tema alam pegunungan dan pedesaan yang membuat setiap wisatawan merasa nyaman dan damai.

Batik Kontemporer

     
 
     Batik kontemporer memiliki motif abstrak sehingga tidak bisa ditiru. Salah satu batik kontemporer Ponorogo yaitu Batik Lesoeng, batik ini mulai populer sekitar 5 tahun yang lalu. Batik Lesoeng adalah batik dengan lebih memberikan warna dalam batik yang sudah ada, memberikan kesan yang berbeda agar lebih menarik dan memberikan energi baru untuk para pengrajin batik dan pecinta batik. Warna batik juga eksklusif karena pewarnaan memanfaatkan daun atau pohon, bukan produk kimia dengan warna dominan yang berupa warna merah, hijau, dan biru. Hal tersebut dikarenakan pada awal penciptaannya batik ini terinspirasi dari kesenian reog Ponorogo yang sering menggunakan warna burung merak. Yang menjadi keistimewaan dari batik ini adalah motif yang dihasilkan tidak ada yang sama persis. Batik Lesoeng merupakan gabungan dari batik tulis dan lukis sehingga proses pembuatannya memerlukan waktu yang cukup lama, antara 15 sampai 30 hari.

       

Rabu, 07 Oktober 2015

Sate Ponorogo



      Beraneka jenis makanan khas tersedia di Ponorogo. Sate Ponorogo merupakan salah satu jenis sate yang berasal dari daerah Ponorogo. Sate Ponorogo berbeda dengan Sate Madura. Perbedaannya adalah pada cara memotong dagingnya. Dagingnya tidak dipotong menyerupai dadu seperti sate ayam pada umumnya, melainkan disayat tipis panjang menyerupai fillet, sehingga selain lebih empuk, lemak pada dagingnya pun bisa disisihkan. Ukuran sate Ponorogo relatif lebih besar dengan irisan memanjang. Karena ukuran yang memanjang ini, satu tusuk sate Ponorogo biasanya hanya berisi satu atau dua potong daging. Perbedaan berikutnya adalah sate Ponorogo melalui proses perendaman bumbu (dibacem) agar bumbu meresap ke dalam daging.

Pecel Ponorogo



     Perbedaan pecel Ponorogo dengan pecel di daerah lainnya adalah bumbu kacangnya kental dan pedas serta mempunyai unsur rasa yang khas dengan aroma yang kuat. Sayur-sayurannya lengkap, tauge yang dipakai bukan berasal dari kacang hijau tetapi dari kedelai. Biasanya dilengkapi dengan petai cina (lamtoro) dan mentimun yang diiris kecil-kecil. Pecel Ponorogo juga dilengkapi dengan rempeyek atau tempe goreng. Cara penyajiannya pun berbeda dengan pecel di daerah lain. Pecel ini disajikan dengan nasi lalu sayur dan disiram sambal, kemudian diberi sayur dan sambal lagi, lalu lalapan kemudian tempe goreng atau rempeyek.


Batik Klasik

     


     Batik klasik memiliki warna yang cenderung gelap dengan motif flora dan fauna yang motifnya condong ke Solo dan Jogjakarta. Motif-motif itu diantaranya adalah latar ireng reog, sekar jagad, djarot asem, klitik dan sebagainya. Batik Ponorogo juga terkenal dengan motif meraknya yang diilhami dari kesenian reog yang menjadi ikon di daerah ini, motifnya antara lain merak tarung, merak romantis, dan batik reog. Kain batik yang diproduksi tidak melulu tulis, tetapi juga cap sehingga semua kalangan mampu membeli batik.

Selasa, 06 Oktober 2015

Es Dawet Jabung





   Dawet jabung ini merupakan cendol yang terbuat dari tepung aren dan tanpa bahan pewarna, sehingga menghasilkan warnanya alami. untuk kuahnya dawetnya terdiri dari santan kelapa muda yang ditambah dengan gula aren dan sedikit garam. biasanya ditambahkan tape ketan juga irisan buah nangka. penyajianya di sajikan dalam mangkok kecil dan ditambah dengan es batu. Dinamakan dawet Jabung, karena asal dari dawet ini berasal dari desa Jabung salah satu desa di kecamatan Mlarak kabupaten Ponorogo